>Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim telegram resmi kepada Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (Rama X).
>Pesan tersebut menyampaikan "belasungkawa terdalam" atas kecelakaan kereta api tragis di provinsi Nakhon Ratchasima.
>Bencana kereta api yang disebabkan oleh jatuhnya derek konstruksi, mengakibatkan setidaknya 30 orang tewas dan 67 orang terluka.
>Telegram Presiden Putin juga menyampaikan simpati kepada keluarga korban dan mendoakan kesembuhan yang cepat bagi mereka yang terluka.
Bangkok, Suarathailand- Vladimir Putin bergabung dengan seruan global untuk solidaritas, menyampaikan "belasungkawa terdalam" kepada Yang Mulia Raja setelah 30 nyawa melayang dalam bencana kereta api Sikhio.
Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengirimkan pesan belasungkawa resmi kepada Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn, menyampaikan simpati mendalamnya menyusul bencana kereta api di Nakhon Ratchasima yang telah merenggut sekitar 30 nyawa.
Dalam telegram yang dipublikasikan di situs web resmi Kremlin, Kepala Negara Rusia menyampaikan pesan langsung kepada Raja Thailand untuk mengakui skala tragedi tersebut.
“Yang Mulia, mohon terima belasungkawa terdalam saya terkait kecelakaan kereta api tragis di provinsi Nakhon Ratchasima,” demikian isi pesan tersebut.
Presiden Putin selanjutnya menyampaikan simpati yang mendalam kepada keluarga dan teman-teman korban dan menyampaikan harapan terbaiknya untuk "pemulihan yang cepat" kepada puluhan penumpang yang saat ini dirawat di rumah sakit karena luka-luka.
Kecelakaan yang terjadi pada hari Rabu, 14 Januari, melibatkan kereta penumpang yang melayani rute Bangkok–Ubon Ratchathani.
Kereta tersebut mengalami bencana di distrik Sikhio ketika sebuah derek konstruksi jatuh dari jembatan yang sedang dibangun, menghancurkan beberapa gerbong yang ditumpangi oleh sejumlah besar penumpang.
Menurut laporan diplomatik dan medis terbaru, insiden tersebut mengakibatkan setidaknya 33 orang tewas dan 67 lainnya terluka.
Pesan Kremlin ini bergabung dengan semakin banyaknya dukungan internasional dari kekuatan global, termasuk UEA dan China, seiring Thailand memulai masa berkabung dan penyelidikan menyeluruh atas kegagalan keselamatan di lokasi konstruksi tersebut.



