Prancis dan sekutunya sedang menyiapkan misi defensif untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Paris, Suarathailand- Presiden Prancis Macron menilai konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari dapat berlangsung cukup lama.
“Saya tidak berpikir Anda dapat mencapai perubahan rezim yang mendalam hanya melalui pengeboman,” kata Macron, dikutip dari media Al Arabiya, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia memperkirakan fase intens konflik tersebut dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Menurutnya, situasi itu berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Macron juga mengatakan Prancis dan sekutunya sedang menyiapkan misi defensif untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu menjadi rute utama perdagangan energi dunia, termasuk minyak dan gas.
Rencana operasi tersebut dibahas bersama Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis dalam pertemuan mengenai keamanan kawasan. Macron mengatakan misi itu akan bersifat murni defensif dan melibatkan negara Eropa serta mitra lainnya.
Sementara itu, Uni Eropa menyatakan siap meningkatkan operasi keamanan maritim di Timur Tengah.
Blok tersebut juga mempertimbangkan memperkuat misi angkatan lautnya di Laut Merah setelah konflik regional semakin meluas.
Prancis telah mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle, sebuah fregat, serta sistem pertahanan udara ke kawasan tersebut dan turut berpartisipasi dalam Operation Aspides untuk melindungi kapal dagang dari serangan milisi Houthi yang didukung Iran.



