Deklarasi Bersama yang ditandatangani pada 26 Oktober 2025 berfungsi sebagai landasan bagi kemajuan kedua negara.
Malaysia, Suarathailand- Perdana Menteri Thailand Anutin bertemu dengan Hun Manet dari Kamboja di Kuala Lumpur untuk membahas langkah-langkah konkret implementasi deklarasi bersama Thailand-Kamboja yang ditandatangani pada 26 Oktober.
Kuala Lumpur, 27 Oktober 2025 — Pukul 10.30 waktu setempat (satu jam lebih awal dari Bangkok), Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Anutin Charnvirakul mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Hun Manet dari Kamboja di Ruang 7M, Lantai 3, Pusat Konvensi KLCC, di sela-sela KTT ASEAN ke-47 dan pertemuan terkait lainnya.
Setelah pertemuan tersebut, Juru Bicara Pemerintah Siripong Angkasakulkiat merangkum hasil-hasil utama sebagai berikut:
Anutin berterima kasih kepada Perdana Menteri Hun Manet atas surat belasungkawa atas wafatnya Yang Mulia Ratu Sirikit, Ibu Suri.
Ia menegaskan kembali bahwa Deklarasi Bersama, yang ditandatangani pada 26 Oktober 2025, berfungsi sebagai landasan bagi kemajuan kedua negara. Yang terpenting saat ini, ujarnya, adalah implementasi perjanjian yang tulus dan konkret. Oleh karena itu, diskusi berfokus pada perlunya kedua negara bekerja sama secara erat untuk mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan nyata sesegera mungkin.
Anutin menegaskan kembali penekanan Thailand pada empat langkah kunci yang disepakati untuk meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan:
-Penarikan senjata berat dari wilayah perbatasan kembali ke pangkalan reguler.
-Operasi penjinakan ranjau di zona sengketa.
-Penindasan kejahatan transnasional, khususnya jaringan penipuan daring.
-Pengelolaan wilayah perbatasan untuk memastikan stabilitas dan kerja sama.
Proses penarikan senjata berat telah dimulai, tetapi Thailand berharap dapat melihat kemajuan yang stabil dan berkelanjutan untuk memastikan keamanan masyarakat perbatasan.
Ia juga menyerukan koordinasi yang lebih kuat pada isu-isu yang tersisa, terutama upaya bersama melawan kejahatan lintas batas, pengerahan tim penjinak ranjau di lapangan, dan implementasi perjanjian pengelolaan perbatasan yang tepat.
Kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan komunikasi diplomatik, menugaskan menteri luar negeri masing-masing untuk segera bertemu guna memajukan kerja sama praktis.
Mereka juga menyadari bahwa dua hingga tiga hari setelah penandatanganan deklarasi bersama sangatlah penting, karena warga negara dan media di kedua negara tengah mengamati dengan saksama tanda-tanda kemajuan.
Oleh karena itu, kedua belah pihak mengakui tanggung jawab bersama untuk menunjukkan langkah-langkah nyata dalam memenuhi komitmen dengan tulus dan itikad baik, guna memastikan perdamaian, stabilitas, dan keamanan bagi rakyat kedua negara.




