Petani Duren Monthong Thailand Rugi Bandar Akibat Cuaca Panas Ekstrem

Kekeringan sejak Marte 2024 telah membuat perkebunan menyedot air dari sumur untuk menjaga agar pohon durian miliknya tetap hidup.

Thailand tenga dilanda gelombang panas ekstrem. Akibat gelombang panas tahun ini sebanyak 38 orang meninggal di Thailand. Kawasan pertanian mongering. Begitupula dengan perkebunan. Termasuk perkebunan durian.

Hasil panen durian anjlok dan biaya operasional meningkat, sehingga para petani dan penjual semakin panik karena pemanasan global berdampak buruk pada industri ini.

Busaba Nakpipat, salah seorang petani durian Thailand mengatakan tahun ini adalah krisis. Gelombang panas menghantam kawasan perkebunannya di Provinsi Chanthaburi timur. 

“Bila cuaca panas terus meningkat di masa depan, maka usaha ini akan berakhir. Petani tidak bisa lagi memproduksi durian,” kata Wanita berusia 54 tahu ini.

Musim durian di Thailand biasanya berlangsung dari Maret hingga Juni, tetapi karena suhu yang melonjak yang berkisar hingga 40 derajat celsius di Chanthaburi selama berminggu-minggu, dan kekeringan yang terjadi setelahnya telah memperpendek masa panen.

Busaba mengatakan, suhu panas menyebabkan durian, yang diurutkan berdasarkan berat dan ukurannya, menjadi lebih cepat matang sehingga tidak tumbuh hingga ukuran maksimal. 

Kekeringan sejak Marte 2024 telah membuat perkebunan menyedot air dari sumur untuk menjaga agar pohon durian miliknya tetap hidup. Busaba bahkan terpaksa membawa ribuan liter air dengan truk.

“Kami harus membeli 10 truk air untuk 120.000 liter air untuk satu kali mengairi seluruh 1,6 hektare lahan pertanian kami,” katanya.

Seperti diketahui ekspor durian Thailand bernilai miliaran dolar dan merupakan produk pertanian paling bernilai ketiga setelah beras dan karet. 

Sekitar 95 persen ekspor durian Thailand ditujukan ke Tiongkok dengan nilai yang mencapai US$ 4,6 miliar pada 2023. 

Share: