Sejumlah biksu bekerja jadi relawan Covid-19 dari mulai mendsitribusikan oksigen hingga pembawa jenazah.
Ketika kasus Covid-19 melonjak di Thailand, beberapa biksu Buddha mengenakan alat pelindung diri di luar jubah mereka, dan bekerja secara sukarela mengirimkan tabung oksigen, mengambil sampel hidung untuk membantu pengujian, dan bahkan membantu membawa orang mati ke krematorium.
Thailand saat ini sedang berjuang untuk menahan gelombang Covid-19 terbaru yang dipicu oleh varian Delta yang sangat menular. Situasi itu telah membuat layanan kesehatan terbengkalai dan membuat kondisi ekonomi babak belur.
Mahapromphong (33), wakil kepala biara Kuil Suthi Wararam di ibu kota Thailand, menjadi salah satu relawan Covid-19.
Sejak 21 Juli dia telah bekerja di lingkungan miskin di Bangkok, mendistribusikan tangki oksigen, makanan dan pasokan medis kepada yang membutuhkan serta mengambil sampel untuk pengujian.
Para biksu sangat dihormati di negara kerajaan penganut Buddha itu, dan mereka dibanjiri dengan sumbangan begitu kabar mereka jadi relawan tersiar.
Mahapromphong mengaku, belajar cara melakukan tes usap hidung dari para dokter dan perawat yang bekerja menangani pasien Covid-19.
Seorang pria terharu saat Mahapromphong mengeluarkan usap dan memasukkan sampelnya ke dalam pot plastik.
"Lebih baik aman daripada menyesal," kata pria itu, matanya berair.
"Para biksu dapat hidup karena kami bergantung pada sumbangan orang-orang," kata Mahapromphong kepada AFP.
“Jadi sudah saatnya kita memberi kembali kepada rakyat. Paling tidak, kita bisa mendorong mereka untuk terus berjuang”.
Supornchaithammo, seorang biarawan di Kuil Chin Wararam Worawiharn, membantu tugas yang lebih berat untuk membawa jenazah korban Covid-19 ke krematorium.
"Saya bersedia mengambil risiko di sini. "Jika saya tertular virus, maka saya siap menerimanya tanpa penyesalan".
Thailand telah melaporkan lebih dari 597.000 kasus Covid-19 dan lebih dari 4.800 kasus kematian.
Sebagian besar infeksi baru terdeteksi sejak April, ketika gelombang terbaru dipicu oleh sebuah klaster di distrik hiburan malam kelas atas Bangkok yang sering dikunjungi oleh orang-orang yang memiliki hubungan politik.
Biksu Supornchaithammo mengatakan dia tidak pernah mengharapkan ini menjadi rutinitasnya, tetapi dengan senang hati membantu.
"Saya tidak berpikir bahwa saya akan melakukan sesuatu seperti ini ketika saya ditahbiskan," katanya.
"Tetapi dengan situasi seperti ini, semua orang membutuhkan uluran tangan dan saya bangga berada di sini". (afp, berita satu)




