"Jika pasukan Kamboja menyerang, merusak pagar kawat berduri, dan melukai tentara Thailand, itu berarti permusuhan telah dimulai, bukan?" katanya.
Bangkok, Suarathailand- Asisten panglima tertinggi Angkatan Udara Kerajaan Thailand dan direktur Pusat Informasi Bersama untuk Situasi Thailand-Kamboja (JIC) mendesak diadakannya pembicaraan bilateral dan pengurangan provokasi, seraya menegaskan bahwa pengerahan pasukan Thailand bersifat defensif dan tidak bertujuan mengubah garis perbatasan.
Marsekal Udara Prapas Sornchaidee memperingatkan pada hari Senin (7 September) bahwa pasukan Thailand akan merespons dengan kekuatan penuh—menggunakan pasukan darat, kekuatan udara, dan artileri—jika tentara Kamboja menyerang personel Thailand di dekat pos pemeriksaan perbatasan Chong Chom di Surin.
Namun, ia mendesak kedua belah pihak untuk mengurangi provokasi, membangun saling percaya, dan menyelesaikan perbedaan melalui pembicaraan bilateral, sembari mengakui bahwa kedekatan posisi pasukan kedua negara meningkatkan risiko konfrontasi.
Ia berbicara di wilayah O Smach setelah memimpin Tim Pengamat ASEAN (AOT)—bersama dengan jurnalis Thailand dan internasional—dalam kunjungan ke titik penyeberangan permanen di distrik Kap Choeng.
Ia juga menegaskan bahwa pengerahan pasukan Thailand saat ini tidak dimaksudkan untuk menentukan batas wilayah atau merebut wilayah Kamboja.
Dugaan Infiltrasi dan Penembakan
Mengutip laporan dari personel di lapangan, Prapas menduga bahwa pasukan Kamboja telah berupaya masuk dan memotong pagar kawat berduri di dua atau tiga titik.
Pasukan Thailand telah menangkap orang-orang yang ia sebut sebagai tentara Kamboja yang mencoba menyusup ke wilayah tersebut dengan menyamar sebagai penduduk desa. Ia mengatakan insiden semacam itu telah terjadi dua atau tiga kali.
Tentara Thailand harus bertindak sesuai dengan aturan pelibatan (*rules of engagement*) mereka, ujarnya, seraya berpendapat bahwa kegagalan untuk merespons dapat memungkinkan pasukan Kamboja membangun posisi di wilayah tersebut.
"Jika pasukan Kamboja menyerang, merusak pagar kawat berduri, dan melukai tentara Thailand, itu berarti permusuhan telah dimulai, bukan?" katanya.
"Dan begitu hal itu terjadi, kami harus merespons dengan kekuatan penuh, menggunakan pasukan darat, kekuatan udara, dan artileri."
Secara terpisah, Letnan Kolonel Khayakorn Chotiphanat, komandan Batalyon Infanteri ke-25, menduga bahwa pasukan Kamboja terus melakukan penembakan yang bersifat provokatif di sepanjang sektor yang menjadi tanggung jawab unitnya. Ia menyampaikan hal ini saat menanggapi pertanyaan mengenai apakah provokasi masih berlanjut setelah ketegangan mereda. Prapas menepis ambisi wilayah
Prapas menyatakan bahwa pasukan Thailand beroperasi berdasarkan Rencana Chakrabongse Bhuvanath untuk mempertahankan perbatasan dan negara, dengan koordinasi di antara ketiga matra angkatan bersenjata. Ia menegaskan kembali bahwa rencana tersebut tidak dimaksudkan untuk merebut wilayah Kamboja.
"Jika kami hendak merebut wilayah Kamboja, kami harus bertempur di seluruh penjuru negeri, dan itu akan menjadi perang berskala cukup besar yang menuntut kerja sama semua pihak," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa upaya bersama akan diperlukan jika Kamboja tidak menghentikan tindakannya. Prapas juga menyebutkan adanya laporan mengenai banyaknya "tentara bayangan" (pasukan fiktif) di pihak Kamboja—dengan jumlah personel yang berbeda dari data resmi—serta adanya personel yang merasa takut.
Ia berupaya meyakinkan publik bahwa Thailand tidak tinggal diam, melainkan telah menyiapkan posisi pertahanan dan peralatan untuk melindungi negara.
Terkait upaya diplomatik, Prapas mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri sedang memaparkan fakta dan kronologi versi Thailand kepada masyarakat internasional. Ia menuduh Kamboja memutarbalikkan fakta peristiwa dan meyakini bahwa komunitas internasional akan menyadari klaim-klaim yang ia sebut sebagai klaim palsu tersebut.
Mengurangi provokasi, membangun kepercayaan, dan memanfaatkan jalur bilateral tetap menjadi langkah terbaik ke depan, ujarnya.
Pertahanan dan Persenjataan Anti-tank di Chong Pling
Delegasi tersebut juga meninjau medan di sekitar lokasi sepanjang lebih dari 10 kilometer yang digambarkan Prapas sebagai area sensitif. Ia mengatakan pasukan Thailand telah membangun pertahanan yang kuat, termasuk parit anti-tank untuk mencegah masuknya tank Kamboja.
Di Chong Pling, pasukan Thailand telah merebut kembali posisi tersebut dengan mengerahkan satu batalion, katanya. Lokasi itu sebelumnya menyimpan bahan peledak dan amunisi—khususnya granat berpeluncur roket (RPG)—yang menurutnya semuanya telah dimusnahkan.
Pasukan Thailand juga telah mengamankan satu truk penuh senjata milik Kamboja sebagai barang bukti. Menurut Prapas, temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa pasukan Kamboja memang berniat dan bersiap untuk melancarkan suatu operasi.
Kunjungan tersebut juga mencakup acara makan bersama hidangan *moo kratha* (panggang ala Thailand) bagi seluruh anggota batalion guna meningkatkan moral personel yang telah bekerja keras, ujarnya.
Khayakorn menyatakan bahwa pasukan senantiasa siaga untuk mempertahankan kedaulatan Thailand dan bahwa peralatan unit tersebut...




