Negosiasi tatap muka sempat terhenti ketika perbatasan Malaysia-Thailand ditutup akibat pandemi Covid-19.
Pemerintah Thailand telah sepakat bahwa Malaysia harus melanjutkan perannya sebagai fasilitator dalam dialog perdamaian di Thailand selatan.
Pemerintah Thailand juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang berkelanjutan dalam memperkuat keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara.
Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob mengatakan hal itu mengutip pernyataan Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan o-cha kepadanya dalam sebuah pertemuan.
“Saya memberikan komitmen untuk melanjutkan dialog yang sempat terhenti akibat Covid-19 sebelumnya,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, hari ini.
Perundingan tersebut digambarkan sebagai harapan baru untuk mengakhiri kekerasan di Pattani, Yala, Narathiwat.
Negosiasi tatap muka sempat terhenti ketika perbatasan Malaysia-Thailand ditutup akibat pandemi Covid-19.
Namun, kedua belah pihak mengadakan pertemuan virtual tiga kali selama periode tersebut.
Perundingan damai di Thailand selatan melalui pertemuan fisik diadakan untuk pertama kalinya lagi di Kuala Lumpur bulan Januari 2020.
Mantan inspektur jenderal polisi Abdul Rahim Noor, yang mewakili pemerintah Malaysia, melanjutkan perannya sebagai fasilitator dalam negosiasi perdamaian.
Ketua perunding Wanlop Rugsanaoh dan kelompok bersenjata paling berpengaruh di Thailand selatan, Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang dipimpin oleh Anas Abdulrahman, telah mengadakan pertemuan.
Di bidang keamanan perbatasan, Ismail mengatakan Malaysia berkomitmen untuk bekerja sama dengan Thailand untuk memastikan perbatasan kedua negara tetap aman dan terlindungi dengan memperkuat kerja sama, termasuk memberantas penyelundupan lintas batas dan kegiatan kriminal.




