>Drone kamikaze FPV berbiaya rendah menantang teknologi militer canggih yang mahal dengan daya hancur yang tidak proporsional.
>Drone ini menciptakan dinamika "murah menghancurkan mahal", di mana unit murah dapat menghancurkan aset bernilai jutaan dolar seperti tank dan sistem artileri dengan presisi tinggi.

Bangkok, Suarathailand- Sistem pertahanan udara tradisional seringkali tidak efektif melawan drone kecil dan lincah ini, memaksa militer untuk segera mengembangkan penanggulangan baru.
Pergeseran dalam peperangan ini memprioritaskan inovasi cepat dan penyebaran teknologi hemat biaya daripada ukuran kekuatan militer semata.
Semakin jelas bahwa pada hari Kamis (11 Desember), di medan perang, teknologi militer canggih yang mahal ditantang oleh "senjata rakyat", sistem berbiaya rendah dengan daya hancur yang tidak proporsional.
Di pusat perubahan ini terdapat drone kamikaze FPV (first-person view), atau "drone bunuh diri", yang dengan cepat menjadi pengubah permainan sejati dan sinyal bahwa bentuk-bentuk peperangan tradisional mungkin akan segera berakhir.
Drone ini beroperasi berdasarkan prinsip yang sederhana namun ampuh.
Operator mengenakan kacamata FPV dan menerbangkan drone kecil yang dilengkapi dengan hulu ledak eksplosif, melihat semuanya melalui kamera drone secara real-time.
Tampilan imersif ini memungkinkan pilot untuk mengarahkan drone berkecepatan tinggi ke target bergerak dengan presisi seperti penembak jitu dari jarak jauh.
"Ini adalah perpaduan antara akurasi rudal berpemandu dengan fleksibilitas drone pengintai," kata seorang analis keamanan.
"Drone ini dapat menyelinap ke titik lemah tank atau bunker dengan cara yang sulit dicapai oleh senjata berat."
Faktor kunci yang mengubah drone kamikaze FPV menjadi mimpi buruk bagi pasukan konvensional adalah biaya.
Banyak di antaranya dirakit dari komponen yang tersedia secara komersial, artinya setiap unit hanya berharga puluhan ribu hingga beberapa ratus ribu baht, sementara mampu menghancurkan kendaraan lapis baja atau sistem artileri senilai puluhan atau bahkan ratusan juta baht.
Hal ini menciptakan dinamika "murah membunuh mahal", di mana militer yang bergantung pada platform besar dan mahal menghadapi tingkat kerugian yang sulit dipertahankan atau dibenarkan.
Peringatan bagi pertahanan udara
Meskipun drone FPV memiliki keterbatasan dalam jangkauan dan daya tahan, kelincahan dan penerbangan rendahnya membuatnya sulit dideteksi dan dicegat.
Sistem pertahanan udara tradisional dirancang untuk melawan pesawat terbang, helikopter, atau rudal besar, bukan drone kecil yang bermanuver di antara medan, pepohonan, dan bangunan.
Akibatnya, banyak negara sekarang berlomba untuk mengembangkan tindakan penanggulangan, termasuk:
Perang elektronik (EW): mengacaukan atau mengganggu tautan kontrol dan video.
Sistem Anti-UAS (C-UAS): menggunakan drone anti-drone, sistem energi terarah, atau senjata tembak cepat otomatis untuk menghadapi ancaman yang datang dari jarak dekat.
Drone kamikaze FPV bukan lagi senjata khusus atau alternatif.
Drone ini menjadi kemampuan inti yang menyoroti bagaimana perang di masa depan akan ditentukan bukan lagi oleh ukuran pasukan semata, tetapi lebih oleh seberapa cepat negara dapat berinovasi, beradaptasi, dan menerapkan teknologi yang hemat biaya.
Di era baru ini, keseimbangan kekuatan akan semakin menguntungkan mereka yang dapat memproduksi dan mengerahkan sistem yang cerdas dan lincah lebih cepat dan lebih murah daripada lawan mereka, dan yang dapat bertahan melawan mereka dengan sama cepatnya.
Drone kamikaze FPV
Drone kamikaze FPV (first-person view), yang sering disebut sebagai drone bunuh diri atau amunisi jelajah, telah menjadi topik yang sangat penting dalam urusan keamanan dan militer modern.
1. Cara Kerja dan Penggunaannya
FPV (First-Person View): Operator mengenakan kacamata FPV dengan layar kecil terintegrasi yang menampilkan video waktu nyata dari kamera yang terpasang pada drone. Hal ini menciptakan sensasi duduk di kokpit drone, memungkinkan kontrol yang sangat presisi dan lincah, terutama di lingkungan yang sempit, berantakan, atau kompleks.
Peran “Kamikaze” / bunuh diri: Istilah ini mencerminkan profil misi drone. Drone ini dirancang untuk menghancurkan target dengan menabraknya secara langsung. Drone membawa hulu ledak kecil atau muatan peledak, yang meledak saat benturan, menghancurkan target dan drone itu sendiri.
2. Karakteristik utama
Biaya rendah: Sebagian besar drone kamikaze FPV dibangun dari komponen yang tersedia secara komersial (commercial off-the-shelf – COTS), sehingga jauh lebih murah daripada rudal kelas militer besar atau drone tempur tradisional.
Presisi tinggi: Kontrol FPV memungkinkan operator untuk memandu drone secara akurat ke target yang bergerak atau titik-titik kecil yang rentan, sangat meningkatkan peluang keberhasilan serangan.
Kemampuan manuver tinggi: Ukuran kecil dan bobot ringannya memungkinkan penerbangan di ketinggian rendah, belokan tajam, dan penghindaran rintangan, membantu mereka mendekati target sambil tetap sulit dideteksi dan dicegat.
Produksi cepat: Drone ini dapat dimodifikasi, ditingkatkan, dan diproduksi dalam jumlah besar dengan cepat, memberikan kemampuan kepada pasukan untuk meningkatkan penggunaannya dalam waktu singkat.
Senjata berbiaya rendah, daya hancur tinggi mengubah aturan perang.
3. Target umum
Drone kamikaze FPV efektif terhadap berbagai macam target, misalnya:
Personel dan unit infanteri: Terutama yang sedang bergerak atau berlindung di posisi yang kurang terlindungi.
Kendaraan ringan dan platform lapis baja: Seperti truk, kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC), dan bahkan tank, ketika drone diarahkan ke titik lemah.
Posisi artileri dan titik pertahanan tetap: Termasuk tempat penempatan senjata, gudang amunisi, dan posisi yang diper fortified di mana peralatan dan pasukan terkonsentrasi.
4. Peran dalam peperangan modern
Drone ini telah banyak digunakan dalam konflik baru-baru ini, terutama dalam perang Rusia-Ukraina. Mereka telah muncul sebagai sistem senjata penting yang:
Mengikis keunggulan perangkat keras lawan: Biaya rendah dan efek penghancuran yang tinggi memungkinkan pasukan dengan aset tradisional yang lebih sedikit untuk menimbulkan kerusakan serius pada lawan yang lebih lengkap persenjataannya.
Mendukung pengintaian dan penargetan: Mereka dapat digunakan pertama untuk pengamatan dan pengawasan, kemudian beralih ke peran serangan atau diikuti oleh senjata lain setelah target diidentifikasi.
Memberikan tekanan psikologis: Kemampuan drone ini untuk muncul tiba-tiba dan menyerang dengan kecepatan dan presisi menciptakan stres konstan bagi pasukan di dekat garis depan.
5. Keterbatasan dan tantangan
Terlepas dari kekuatannya, drone kamikaze FPV juga menghadapi kendala penting:
Jangkauan dan daya tahan terbatas: Dibandingkan dengan drone pengintai yang lebih besar, jangkauan terbang dan waktu operasinya relatif singkat.
Keterampilan operator yang tinggi: Penerbangan FPV yang efektif dalam kondisi pertempuran membutuhkan pelatihan intensif dan kesadaran situasional yang kuat.
Kerentanan terhadap peperangan elektronik: Tautan kendali dan umpan video mereka dapat terganggu oleh tindakan balasan elektronik (ECM), sehingga membuat mereka rentan terhadap pengacauan sinyal dan bentuk gangguan lainnya.




