Kualitas udara tidak sehat tercatat di wilayah ibu kota Filipina akibat kabut asap.
Manila, Suarathailand- Filipina dikejutkan dengan kabut asap yang menyebbakan kualitas udara yang tidak sehat di Metro Manila. Kabut asap lintas batas ini diduga berasal dari kebakaran hutan di Indonesia dan terbawa oleh angin muson barat daya.
Menurut Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DENR), beberapa kota di wilayah tersebut mencatat indeks kualitas udara dalam kategori "sangat tidak sehat" hingga "sangat berbahaya" (akut).
Pejabat kesehatan mengimbau warga untuk tetap berada di dalam ruangan, mengenakan masker N95 saat berada di luar, serta mengambil langkah pencegahan ekstra bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kabut asap diperkirakan akan bertahan selama beberapa hari, dengan perbaikan kondisi yang bergantung pada faktor eksternal seperti pola angin, curah hujan, dan status kebakaran hutan di Indonesia.
Sebagian wilayah Luzon dan Visayas terdampak kabut asap lintas batas pada hari Selasa akibat angin muson barat daya—atau yang dikenal sebagai "habagat"—yang membawa asap dari kebakaran hutan di Kalimantan, Indonesia, demikian disampaikan oleh pejabat lingkungan hidup dan kesehatan.
Pemantauan oleh Biro Pengelolaan Lingkungan Hidup di bawah Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DENR-EMB) menunjukkan bahwa beberapa kota di Metro Manila berada dalam kategori kualitas udara "sangat tidak sehat" hingga "sangat berbahaya" pada Selasa pagi.
Data per pukul 16.00 menunjukkan indeks kualitas udara kategori "sangat berbahaya" sebesar 265 untuk Parañaque; 245 untuk Las Piñas; 237 untuk kawasan Ateneo di Quezon City; 227 untuk Malabon; 226 untuk Taguig; 225 untuk Manila; 221 untuk Valenzuela; 217 untuk Marikina; 216 untuk Muntinlupa; 214 untuk San Juan; dan 208 untuk Mandaluyong.
Pada skala EMB, rentang 201 hingga 300 merupakan kategori tertinggi kedua, tepat di bawah kategori "darurat" yang berada di rentang 301 hingga 500.
Angka untuk kategori "sangat tidak sehat" tercatat di Makati (188), Navotas (180), kawasan Commonwealth di Quezon City (171), dan Pateros (167).
Departemen Kesehatan (DOH) merekomendasikan agar masyarakat tetap berada di dalam ruangan jika memungkinkan dan mengenakan masker N95 setiap kali keluar rumah.
Jika masker N95 tidak tersedia, disarankan untuk menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan atau kain basah, atau mengenakan dua lapis masker bedah maupun masker biasa. Departemen tersebut menyatakan bahwa kabut asap dapat memperparah penyakit pernapasan seperti asma serta menyebabkan nyeri dada, batuk, kesulitan bernapas, hidung gatal, dan mata berair.
"Kewaspadaan ekstra sangat penting bagi anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung," ujar Departemen Kesehatan (DOH).
Wilayah Central Luzon, CALABARZON (Cavite, Laguna, Batangas, Rizal, dan Quezon), serta MIMAROPA (Mindoro, Marinduque, Romblon, dan Palawan) termasuk dalam daftar wilayah terdampak yang disebutkan dalam unggahan terpisah di Facebook oleh DENR-EMB.
Untuk perjalanan di malam hari atau saat jarak pandang terbatas, pengendara disarankan menyalakan lampu depan atau lampu kabut, kata Bernardo Rafaelito Alejandro IV, Wakil Administrator bidang Administrasi pada Kantor Pertahanan Sipil (Office of Civil Defence).
Di Bohol, Mel Micayabas (34 tahun) dari kota Dauis mengatakan bahwa asap tampak menyelimuti Pulau Panglao jika dilihat dari kejauhan.
Warga Kota Tagbilaran dan kota-kota sekitarnya juga melaporkan kondisi langit yang berkabut dan dipenuhi asap, situasi yang telah disadari sebagian warga sejak hari Senin.
Dari Tagbilaran, Pulau Cebu—yang biasanya terlihat jelas di seberang Selat Bohol—hampir tidak tampak, sementara pegunungan Maribojoc tertutup kabut asap.
DENR-EMB wilayah Central Visayas mengategorikan kualitas udara Metro Cebu sebagai "sangat tidak sehat" pada Selasa pagi.
Gubernur Bohol, Erico Aristotle Aumentado, mengimbau warga untuk mengenakan masker saat berada di luar ruangan dan menghindari paparan yang tidak perlu.
Data resmi di Kota Tagbilaran menunjukkan kualitas udara tetap berada dalam kisaran "Baik hingga Cukup" (Good to Fair) antara tanggal 28 hingga 31 Agustus, meskipun ada laporan dari warga kota Tubungan di Iloilo, Western Visayas, pada hari Senin mengenai adanya kabut asap, bau asap yang menyengat, dan rasa tidak nyaman saat bernapas.
Kabut asap diperkirakan masih akan menyelimuti sebagian wilayah negara tersebut hingga hari Kamis, menurut Jundy del Socorro, Kepala Divisi Manajemen Kualitas Lingkungan DENR-EMB.
"Saat ini, situasi kabut asap sebagian besar berada di luar kendali kami karena bergantung pada beberapa faktor di luar Filipina, termasuk intensitas kebakaran hutan di Kalimantan, pola angin yang berlaku, dan curah hujan di seluruh kawasan," ujar Del Socorro.
Dengan ukuran tidak lebih dari 2,5 mikrometer, partikel PM2.5 dapat terhirup hingga jauh ke dalam paru-paru, dan peningkatan kadarnya dapat menimbulkan risiko lebih besar bagi orang-orang yang sensitif terhadap polusi udara. Curah hujan dapat membantu mengurangi polusi dengan melenyapkan PM2.5 dan partikel asap dari atmosfer, ujar Del Socorro.
Ia mengatakan kualitas udara "dapat membaik secara bertahap jika curah hujan tetap meluas dan pola angin mulai berubah" antara tanggal 4 dan 6 September.
Kondisi setelah tanggal 6 September akan bergantung "terutama pada apakah kebakaran di Kalimantan terus menghasilkan asap, apakah muncul titik panas baru, dan apakah angin terus membawa asap ke arah Filipina," tambahnya.
Dengan laporan dari Gabryelle Dumalag, Hazel Villa, dan Leo Udtohan.
Sumber: Inquirer




