Keterlambatan paket obat ini karena laboratorium terlambat melakukan entry data pasien Covid-19 ke aplikasi NAR.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyediakan akses layanan telemedisin untuk pasien Covid-19 guna mendapat penanganan medis lebih dini berupa telekonsultasi dan paket obat gratis.
Namun, tidak semua pasien Covid-19 mendapat layanan ini, hanya pasien yang melakukan pemeriksaan atau tes Covid-19 pada laboratorium yang merupakan jejaring dari sistem new all record (NAR) Kemenkes.
Untuk itu, bagi masyarakat yang tidak mendapat akses layanan obat gratis dan telekonsultasi karena melakukan pemeriksaan di laboratorium non-NAR, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, masyarakat dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas terdekat.
Dalam hal ini, anggota keluarga atau kerabat terdekat pasien Covid-19 dapat mendatangi puskesmas dengan membawa hasil rapid antigen atau swab PCR positif untuk mendapatkan obat dan layanan konsultasi langsung.
Nadia menjelaskan, ketika puskesmas mendapat hasil swab tersebut, tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas dapat langsung melakukan pengecekan data dan informasi dengan meminta nomor kontak pasien Covid-19 untuk melakukan telekonsultasi guna memastikan pasien tersebut melakukan isolasi mandiri atau isolasi terpusat (isoman/isoter) bagi pasien tanpa gejala dan gejala ringan. Sementara pasien dengan gejala sedang dan berat mendapat penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
“Untuk tanpa gejala dan gejala ringan ini akan mendapatkan paket obat yang sama dengan yang diberikan melalui layanan telemedisin. Bahkan, mereka bisa mendapat obat lebih, misalnya obat penurun panas dan lain-lain karena konsultasi langsung dari puskesmas dan ada ketersedian obat tambahan lain,” kata Nadia, Rabu (16/2/2022).
Ia menambahkan, peran puskesmas ini juga dapat dimanfaatkan oleh pasien Covid-19 yang melakukan pemeriksaan di laboratorium jejaring NAR yang belum mendapat paket obat karena ada keterlambatan.
Dikatakan Nadia, keterlambatan paket obat ini karena laboratorium terlambat melakukan entry data pasien Covid-19 ke aplikasi NAR. Pasalnya, tidak semua laboratorium yang terhubung NAR dapat melakukan integrasi langsung. Hal ini menyebabkan paket obat terlambat.
Untuk itu, Nadia mendorong laboratorium tidak menunda input data positif pasien, sehingga data tersebut dapat diproses dengan bantuan robot untuk diteruskan kepada platform telemedisin.
Menurut Nadia, laporan keterlambatan obat biasa 3-4 hari, jika melebihi dari durasi tersebut ada kendala lain di lapangan seperti perbedaan alamat tempat tinggal atau nomor kontak yang dicantumkan tidak memiliki WhatsApp, sehingga paket obat tidak sampai ke rumah pasien.
Sementara layanan kesehatan disiapkan oleh Kemenkes memanfaatkan fitur WhatsApp. Pasien positif mendapat informasi melalui pesan WhatsApp dari Kemenkes RI dengan centang hijau secara otomatis.
Nadia menjelaskan apabila tidak mendapatkan WhatsApp pemberitahuan, pasien bisa memeriksa NIK secara mandiri di situs https://isoman.kemkes.go.id.
Untuk itu, Nadia menyarankan, pasien yang belum mendapat paket obat untuk datang langsung ke puskesmas untuk mendapat penanganan secepat mungkin.




