Inggris Beri Sanksi Dua TV Georgia karena 'Disinformasi Soal Rusia'

Inggris menuduh saluran-saluran tersebut mempromosikan narasi palsu tentang perang, termasuk narasi yang menggoyahkan Ukraina atau mengancam integritas teritorialnya. 


London, Suarathailand- Inggris memberlakukan sanksi terhadap dua saluran televisi pro-pemerintah di Georgia pada hari Selasa, menuduh mereka menyebarkan informasi yang sengaja menyesatkan tentang perang Rusia di Ukraina.

Sanksi terhadap Imedi dan Postv merupakan bagian dari paket sanksi baru Inggris yang menargetkan 297 entitas untuk menandai peringatan keempat invasi Moskow ke Ukraina pada tahun 2022.

Inggris menuduh saluran-saluran tersebut mempromosikan narasi palsu tentang perang, termasuk narasi yang menggoyahkan Ukraina atau mengancam integritas teritorialnya. 

Dikatakan bahwa Imedi khususnya telah menyebarkan kebohongan yang menggambarkan pemerintah Ukraina sebagai "tidak sah" atau "boneka" Barat.

Imedi menggambarkan sanksi tersebut sebagai "tidak berharga" dan mengatakan akan terus melayani rakyat Georgia.

Pendiri Postv, Shalva Ramishvili, mengutuk keputusan tersebut dalam sebuah unggahan Facebook dan menyatakan bahwa London telah bertindak "karena kami tidak mengatakan bahwa Ukraina mengalahkan Rusia."

Sanksi tersebut mencakup pembekuan aset dan properti milik perusahaan penyiaran di Inggris dan melarang pemiliknya untuk menjalankan perusahaan lain yang berbasis di Inggris.

Georgia, yang dulunya termasuk negara yang lebih demokratis dan pro-Barat di antara negara-negara penerus Uni Soviet, telah menjadi semakin otoriter sejak perang di Ukraina dimulai dan telah memperdalam hubungan ekonomi dengan Rusia.

Tbilisi telah memberikan bantuan kemanusiaan kepada Ukraina tetapi belum menjatuhkan sanksi kepada Rusia, yang kalah dalam perang singkat pada tahun 2008.

Imedi hingga baru-baru ini dimiliki oleh Irakli Rukhadze, warga negara AS kelahiran Georgia yang berbasis di Inggris.

Rukhadze menjual sahamnya di Imedi bulan ini kepada sebuah perusahaan bernama Prime Media Global, dengan manajemen saluran saat ini menerima setengah dari saham tersebut, menurut pemberitahuan di situs web Hunnewell Partners, sebuah perusahaan ekuitas swasta di mana Rukhadze adalah salah satu pendirinya.

Share: