Indonesia masih memiliki ambisi pada satelit pertahanan.
Terkadang publik Indonesia tak tahu menahu bahwasanya peralatan perang TNI bergantung pada komunikasi saat di medan tugas.
Ya, komunikasi antar satuan atau matra menjadi sangat penting bagi militer Indonesia di medan tugas.
Karena dengan lancarnya komunikasi sesama kawan saat berperang, militer Indonesia lebih efektif mengerahkan kekuatan menggempur musuh, plus menghindari Friendly Fire.
Untuk itulah TNI harus mempunyai apa yang namanya Network Centric Warfare agar setiap matra bisa berkomunikasi dan melaksanakan operasi militer secara cepat tepat dan terarah.
Hal ini sendiri diamini TNI Letjen TNI Ganip Warsito saat menjabat Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.
Warsito menjelaskan bila Network Centric Warfare saat ini sedang dikembangkan oleh TNI.
Nantinya Network Centric Warfare (NCW) harus diawaki oleh personel yang betul-betul handal.
"Untuk itu, langkah-langkah peningkatan profesionalisme melalui pendidikan dan latihan agar diprioritaskan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi komunikasi yang pesat," kata di Aula Gatot Soebroto Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Maret 2021 lalu seperti dikutip dari Antara.
Dalam bahasa profesionalnya, NCW ialah metode peperangan masa kini yang berbasis pada konektivitas jaringan komunikasi serta data secara real time yang disampaikan dari pusat komando ke unit-unit tempur di lapangan.
Sebaliknya untuk update pertempuran unit-unit TNI yang berperang di medan tugas bisa menyampaikan ke pusat komando.
Warsito yang jadi pembicara pada Rapat Koordinasi Komunikasi dan Elektronika (Rakorkomlek) TNI Tahun 2021 Maret 2021 lalu itu membahas tentang "Meningkatkan kemampuan bidang Komlek guna mendukung program Interoperability berbasis Network Centric Warfare (NCW) Dalam rangka membangun Sistem Operasi Tri Matra terpadu menuju TNI yang kuat, solid, dan professional"
Dari tema ini saja bisa dilihat TNI ngebet punya NCW dan militer Amerika Serikat (AS) sudah lama menggunakannya di medan pertempuran.
"Saya harap dari tema tersebut perlu diaplikasikan dalam penerapannya ke depan nanti," kata Warsito.
Tapi ada permasalahan setiap Komlek pasti menemui hambatan supaya NCW nantinya lancar.
"Perbedaan karakteristik gelar Komlek di setiap wilayah akan menghadirkan kompleksitas permasalahan yang bervariasi. Oleh karena itu, saya mengajak para peserta untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam merencanakan pembangunan bidang Komlek yang komprehensif dan lebih modern," katanya.
Unsur utama NCW sendiri sebenarnya bergantung akan satelit.
Satelit untuk NCW memang harus murni digunakan oleh keperluan militer tanpa embel-embel ditumpangi oleh kepentingan lain.
Oleh sebab itulah Indonesia masih sangat berambisi mempunyai satelit pertahanan.
Hal ini diungkapkan oleh akun twitter @AHelvas dimana Indonesia sedang mengincar satelit militer.
"Indonesia masih memiliki ambisi pada satelit pertahanan," ujarnya.
"Kementerian Pertahanan telah mengajukan permintaan anggaran ke kementerian lain (Keungan)," tambahnya.
Untuk vendor yang akan menyediakan satelit militer untuk Indonesia masih tebak-tebak.
Semoga Kemendagri mengambil pelajaran dari program yang gagal sebelumnya. Akankah Thales Alenia Space menawarkan solusi? Akankah Airbus bersaing? Apakah Indonesia sudah membayar denda US$20 juta kepada Avanti?" tulisnya.
Indonesia memang sangat memerlukan satelit militer karena perannya amat krusial. (zona jakarta)




