BMKG Pastikan Cuaca Ekstrem Tak Landa Indonesia Seperti di Thailand

BMKG menyatakan cuaca panas yang dirasakan di Indonesia adalah siklus tahunan sebagai akibat dari adanya gerak semu matahari dan kondisi cuaca cerah pada siang hari, terutama di musim kemarau.

Sejumlah negara di Asia Tenggara dilanda cuaca panas ekstrem. Di Thaiand 30 lebih orang meninggal akibat cuaca panas. Di Filipina sekolah-sekolah diliburkan untuk menghindari korban serangan panas.

Terkait kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) mengungkapkan fenomena gelombang panas yang terjadi di sebagian wilayah Asia dalam sepekan terakhir tidak akan melanda Indonesia.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan cuaca panas yang dirasakan di Indonesia adalah siklus tahunan sebagai akibat dari adanya gerak semu matahari dan kondisi cuaca cerah pada siang hari, terutama di musim kemarau.

Gelombang panas merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut, dengan suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata.

Fenomena itu pada umumnya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti Eropa, Amerika, dan sebagian wilayah Asia. Secara meteorologis, hal tersebut dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap di suatu wilayah dekat permukaan akibat anomali dinamika atmosfer. Kondisi itu membuat aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas.

"Kondisi atmosfer seperti itu sulit terjadi di wilayah Indonesia yang berada di wilayah ekuator," jelas Guswanto di Jakarta, Sabtu (4/5).

Berdarkan data BMKG, kondisi suhu panas di wilayah Indonesia dengan nilai di atas 36°C tercatat pada beberapa wilayah, seperti di Deli Serdang (Sumatera Utara) 37,1 °C, Medan (Sumatera Utara) 36,6 °C, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat) 36,6 °C, Sidoarjo (Jawa Timur) 36,6 °C dan Bengkulu sebesar 36,6 °C. (antara)


Share: