Palang Merah Iran menyebut total 555 orang tewas dalam agresi gabungan oleh AS dan rezim Israel hingga saat ini.
AS, Suarathailand- Amerika Serikat dan Israel awalnya berencana untuk melancarkan serangan militer mereka terhadap Iran sekitar seminggu lebih awal dari yang akhirnya terjadi, tetapi agresi tersebut ditunda karena kombinasi kekhawatiran operasional, penilaian intelijen, dan perkembangan diplomatik, menurut sebuah laporan.
Media berita Axios, mengutip beberapa pejabat AS, melaporkan pada hari Senin bahwa perencana militer dari AS dan Israel telah mulai mempersiapkan agresi tersebut segera setelah putaran kedua negosiasi tidak langsung AS-Iran di Jenewa, Swiss, berakhir pada 17 Februari.
Namun, otorisasi akhir tidak pernah datang karena beberapa faktor bergabung untuk menunda jadwal tersebut.
Pejabat senior AS dan Israel mengatakan salah satu masalah mendesak melibatkan kondisi cuaca di wilayah tersebut karena cuaca buruk mempersulit perencanaan operasional untuk serangan pembuka.
Pejabat Israel lainnya mengatakan penundaan tersebut juga disebabkan oleh kebutuhan akan koordinasi yang lebih erat antara militer AS dan angkatan bersenjata Israel.
Sementara itu, seorang pejabat pemerintahan Trump menggambarkan situasi tersebut sebagai dinamis dan tidak pasti pada hari-hari menjelang agresi.
“Dua minggu terakhir ini sangat berbelit-belit,” kata pejabat itu ketika beberapa spekulasi beredar di kalangan pemerintah tentang alasan di balik penundaan tersebut.
Menanggapi spekulasi itu, pejabat yang sama mengatakan bahwa “beberapa orang mengatakan itu tentang bulan atau cuaca atau apa pun. Tapi itu [omong kosong].”
Namun, pejabat itu mengakui bahwa kondisi cuaca memang berperan. “Ada masalah cuaca,” katanya, menambahkan bahwa “tidak diragukan lagi. Dan ada masalah cuaca yang lebih dipikirkan oleh Israel.”
Penundaan satu minggu itu memberi ruang untuk putaran tambahan negosiasi tidak langsung nuklir antara AS dan Iran di Jenewa.
Menurut laporan tersebut, ada perbedaan pandangan di antara para pejabat tentang apakah negosiasi itu tulus atau sebagian besar merupakan langkah taktis untuk mengulur waktu hingga tanggal agresi baru.
Putaran ketiga negosiasi membantu mempertahankan isyarat bahwa diplomasi tetap menjadi jalur pilihan Presiden Donald Trump untuk mengurangi kecurigaan tentang motif tersembunyi di balik keterlibatan AS dalam pembicaraan, demikian kesimpulan laporan tersebut.
Pada hari Sabtu, angkatan bersenjata AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan di seluruh Iran yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Beberapa komandan senior Iran juga gugur dalam agresi tersebut.
Menurut Palang Merah Iran, total 555 orang telah tewas dalam agresi gabungan oleh AS dan rezim Israel hingga saat ini.
Iran dengan cepat dan tegas membalas serangan tersebut dengan melancarkan rentetan rudal dan drone terhadap wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut.




