Siswa kelas 9 diamankan setelah insiden penembakan di sekolah. Pelaku siswa 15 tahun diduga alami depresi.
Kamphaeng Phet, Suarathailand- Seorang siswa kelas 9 berusia 15 tahun diamankan setelah terjadi penembakan di sebuah sekolah di Kamphaeng Phet. Tidak ada laporan korban luka, dan kegiatan belajar-mengajar akan dialihkan ke sistem daring selama dua hari.

Seorang siswa kelas 9 berusia 15 tahun diamankan setelah diduga melepaskan delapan tembakan di sebuah sekolah di provinsi Kamphaeng Phet pada hari Rabu (2 September 2026), menyebabkan guru dan siswa berlarian menyelamatkan diri atau mencari perlindungan saat pergantian jam pelajaran.
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 14.00. Tidak ada laporan mengenai korban luka.
Polisi dan sukarelawan penyelamat segera mendatangi sekolah dan mengendalikan situasi sebelum akhirnya mengamankan siswa tersebut.
Keterangan awal sempat berbeda mengenai arah tembakan. Informasi dari pihak sekolah menyebutkan bahwa siswa tersebut melepaskan delapan tembakan ke udara.
Sementara laporan terpisah dari lokasi kejadian menyebutkan adanya kerusakan akibat peluru pada mobil seorang guru dan sebuah pintu kaca.
Petugas menemukan selongsong peluru di dekat pos keamanan di pintu masuk, serta tambahan selongsong dan peluru yang belum ditembakkan di dekat gedung olahraga.
Seorang petugas keamanan sekolah mengatakan bahwa siswa tersebut masuk melalui gerbang depan sambil membawa pistol kaliber 9mm dan melepaskan tembakan yang nyaris mengenainya, sebelum melanjutkan aksinya lebih jauh ke dalam area sekolah.

Guru Mengevakuasi Siswa ke Tempat Aman
Seorang guru olahraga mengatakan bahwa ia mendengar suara tembakan saat para siswa sedang berganti kelas dan segera berupaya menjauhkan murid-murid dari lokasi tersebut.
Saat berhadapan langsung dengan siswa pelaku, guru tersebut membantu memindahkan murid-murid ke dalam auditorium agar mereka dapat berlindung dengan aman.
Polisi, petugas penyelamat, dan pejabat pendidikan kemudian mengonfirmasi bahwa tidak ada siswa, guru, maupun orang lain di sekolah tersebut yang mengalami luka-luka.
Gubernur Kamphaeng Phet Chatip Rujanaseri, Wakil Gubernur Suwanit Suriyakul Na Ayutthaya, serta aparat kepolisian, militer, dan instansi pemerintah lainnya kemudian tiba di lokasi untuk memantau keamanan dan memberikan dukungan kepada para orang tua yang sedang menunggu informasi.
Pesan-pesan Sebelumnya Telah Memicu Intervensi Pihak Sekolah
Siswa tersebut tidak mengikuti kegiatan belajar sejak 21 Agustus karena sedang menjalani cuti untuk mendapatkan perawatan akibat depresi. Janji temu untuk pemeriksaan medis lanjutan telah dijadwalkan pada tanggal 4 September.
Pihak sekolah sebenarnya sudah mengetahui adanya potensi peringatan sejak 19 Agustus, setelah mendapat informasi bahwa siswa tersebut mengirim pesan kepada seorang teman yang menyatakan niatnya untuk datang ke sekolah pada pukul 10.00 pagi tanggal 20 Agustus guna memicu suatu insiden.
Pihak sekolah memanggil siswa tersebut beserta orang tuanya untuk melakukan pembicaraan.
Dalam pertemuan itu, siswa tersebut membantah memiliki niat untuk melakukan serangan dan menyatakan bahwa pesan-pesan itu merupakan bagian dari percakapan saat bermain gim.
Insiden tanggal 2 September itu terjadi hampir dua minggu kemudian.
Polisi Menyelidiki Motif
The Nation melaporkan pihak berwenang sedang menyelidiki situasi dan motif di balik penembakan tersebut.
Siswa itu akan dimintai keterangan dengan didampingi tim multidisiplin, sesuai dengan prosedur yang berlaku bagi anak di bawah umur.
Polisi juga sedang memeriksa senjata api, amunisi, dan barang bukti yang ditemukan di area sekolah, termasuk kerusakan akibat peluru pada kendaraan guru dan pintu kaca sebagaimana dilaporkan.
Identitas siswa maupun nama sekolah tidak dipublikasikan.
Sekolah Beralih ke Pembelajaran Daring
Sekolah akan menangguhkan kegiatan belajar-mengajar tatap muka selama dua hari pascainsiden dan beralih ke pembelajaran daring selama periode tersebut.
Pihak berwenang menyatakan bahwa pengaturan keamanan akan ditinjau kembali sebelum siswa kembali mengikuti pembelajaran tatap muka seperti biasa.
Otoritas pendidikan juga berupaya menenangkan para orang tua, sembari memberikan dukungan psikologis dan layanan kesejahteraan setelah insiden tersebut.




