Mentok, Indonesia Bayar Utang Kereta Cepat Whoosh ke China dengan APBN

Prasetyo tidak menyebutkan jumlah pasti utang proyek Whoosh Indonesia kepada China.


Jakarta, Suarathailand- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan diskusi teknis tentang mekanisme pembayaran masih berlangsung, dengan negosiasi dipimpin oleh CEO dana kekayaan negara Indonesia, Danantara.

"Ya, pembayaran utang Whoosh akan menggunakan anggaran negara," kata Menteri Sekretaris Negara Indonesia Prasetyo Hadi, yang juga juru bicara Presiden Prabowo Subianto, kepada wartawan di Stasiun Gambir Jakarta pada Selasa (10 Februari), seperti dikutip oleh media lokal Tempo.

Prasetyo tidak menyebutkan jumlah pasti utang kepada China, menurut CNBC.

Jalur sepanjang 142 km dari Jakarta ke Bandung, HSR pertama di Asia Tenggara, mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2023 dan mengangkut 20.000 hingga 30.000 penumpang setiap hari. Proyek tersebut menelan biaya sekitar US$7,3 miliar, tiga perempatnya dibiayai oleh Indonesia melalui pinjaman dari China Development Bank.

Prasetyo menambahkan bahwa diskusi teknis mengenai mekanisme pembayaran masih berlangsung, dengan negosiasi dipimpin oleh Rosan Perkasa Roeslani, CEO dana kekayaan negara Indonesia, Danantara.

Tempo melaporkan bahwa pada 20 Januari, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Daerah Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya membahas restrukturisasi utang kereta api cepat dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Agus, restrukturisasi utang tetap menjadi prioritas utama diskusi antara Jakarta dan Beijing karena masalah tersebut "berkaitan dengan pihak Tiongkok dan keamanan fiskal perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut".

Namun, pada saat itu, ia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang opsi pembayaran dan mengatakan bahwa keputusan untuk menggunakan anggaran negara belum final.

“Mohon bersabar karena kami juga berupaya mencari solusi terbaik. Hal ini sejalan dengan amanat Presiden Prabowo bahwa negara juga akan bertanggung jawab terkait struktur keuangan,” kata Agus pada 20 Januari, seperti dikutip Tempo.

Prakiraan sebelumnya mengatakan bahwa proyek Whoosh tidak boleh dinilai berdasarkan kerugian finansialnya mengingat manfaat sosialnya.

“Saya telah mengatakan bahwa, sebagai Presiden Republik Indonesia, saya akan bertanggung jawab atas masalah ini. Oleh karena itu, tidak perlu ada keributan karena kita cukup kuat untuk menanganinya,” katanya November lalu, seperti dilaporkan oleh kantor berita negara Antara.

“Saya tidak melihat masalah dengan kita membayar 1,2 triliun rupiah (sekitar US$72 juta) setiap tahunnya (biaya bunga), karena sistem transportasi ini membantu mengurangi kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan waktu perjalanan – manfaat yang harus diperhitungkan.”

Kereta api tersebut dikembangkan oleh konsorsium perusahaan milik negara Indonesia dan Tiongkok.

Dengan BUMN Indonesia kini berada di bawah pengawasan Danantara sejak tahun lalu, dana kekayaan negara tersebut telah mengambil alih tanggung jawab untuk mengelola kewajiban yang belum terselesaikan dari proyek tersebut.

Tempo melaporkan bahwa Danantara akan terlibat dalam proses restrukturisasi utang Whoosh, terutama yang terkait dengan operasi kereta api cepat, sementara pemerintah akan mengambil alih yang terkait dengan infrastruktur.

Sebelumnya, Danantara menolak untuk menanggung beban utang penuh dan menjajaki kemungkinan mengembalikan kepemilikan proyek Whoosh kepada pemerintah, seperti yang dilaporkan Jakarta Globe.

Usulan Danantara ditolak oleh Purbaya.

Menteri Keuangan tersebut berpendapat bahwa dana kekayaan negara menerima triliunan rupiah dalam bentuk dividen tahunan dari BUMN, dana yang menurutnya dapat digunakan untuk membiayai kembali utang proyek kereta api tersebut.

Secara terpisah, pada Oktober tahun lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki proyek HSR menyusul tuduhan korupsi yang dilayangkan oleh mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.

Dalam podcast-nya pada 14 Oktober, Mahfud mengklaim bahwa biaya konstruksi per kilometer Whoosh mencapai US$52 juta, jauh lebih tinggi daripada di Tiongkok, di mana biayanya hanya US$17 juta hingga US$18 juta per kilometer.

Ia juga menyoroti pengalihan kontrak proyek dari Jepang ke Tiongkok pada tahun 2015 hingga 2016, yang menyebabkan suku bunga pinjaman melonjak dari 0,1 persen (penawaran Jepang) menjadi 3,4 persen (kontrak Tiongkok). Menurutnya, hal ini secara signifikan meningkatkan beban pembiayaan proyek.

Sebagai tanggapan, KPK mengatakan akan bertindak sesuai prosedur yang berlaku dan meminta Mahfud untuk menyerahkan data atau bukti resmi apa pun yang dimilikinya.

Share: