Ada Apa IMF Tiba-tiba Sebut Harga Minyak Sulit Turun Meski Selat Hormuz Pulih?

IMF dalam laporannya mencatat rata-rata harga minyak dunia diprediksi melonjak hingga hampir sepertiga pada 2026, mencapai 89,27 dolar AS per barel, sebelum akhirnya terkoreksi ke angka 78,7 dolar per barel pada 2027.


Moskow, Suarathailand- Kntor Berita Sputnik melaporkan Direktur Departemen Komunikasi Dana Moneter Internasional (IMF) Julie Kozack memperkirakan harga minyak mentah dunia tidak akan bisa turun dengan cepat ke level sebelum terjadinya serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

IMF memprediksi harga minyak tetap bertahan bahkan jika jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih pada pertengahan Juli ini.

IMF sebelumnya pada Rabu menerbitkan pembaruan proyeksi harga minyak global.

IMF dalam laporannya mencatat rata-rata harga minyak dunia diprediksi melonjak hingga hampir sepertiga pada 2026, mencapai 89,27 dolar AS per barel, sebelum akhirnya terkoreksi ke angka 78,7 dolar per barel pada 2027.

"IMF tidak berasumsi bahwa situasi (harga minyak) akan bisa langsung kembali seperti kondisi normal sebelum perang," kata Kozack saat memberikan keterangan terkait penilaian IMF terhadap pasar minyak global.

Ketegangan di Timur Tengah kembali membara, IMF sejauh ini masih optimistis bahwa lalu lintas pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz akan mulai membaik bulan ini.

Kendati demikian, Kozack menambahkan bahwa ke depannya IMF tetap akan memasukkan dinamika situasi regional terkini serta kondisi pasar komoditas ke dalam kalkulasi proyeksi mereka.

Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan udara besar-besaran yang diluncurkan militer AS ke wilayah Iran pada Rabu dini hari.

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengeklaim operasi tersebut merupakan aksi balasan atas tindakan Iran yang dinilai mengganggu kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Merespons serangan itu, militer Iran langsung meluncurkan serangan balasan ke pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di Bahrain dan Kuwait.

Pemerintah Iran juga menuduh Washington telah melanggar memorandum penghentian permusuhan yang sebelumnya telah disepakati.

Situasi semakin memanas seusai Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan pada Rabu pagi bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran kini sudah tidak berlaku lagi

Share: