Tokyo Shoko Research melaporkan sebanyak 1.028 perusahaan gulung tikar pada Juli lalu, naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.
Jepang, Suarathailand- Kyodo News melaporkan angka kebangkrutan perusahaan di Jepang pada Juli melampaui 1.000 kasus untuk bulan kedua berturut-turut, seiring krisis tenaga kerja dan kenaikan harga terus menekan usaha-usaha kecil, demikian dilaporkan media lokal pada Senin (10/8).
Tokyo Shoko Research melaporkan sebanyak 1.028 perusahaan gulung tikar pada Juli lalu, naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya, dengan total liabilitas melonjak sebesar 41,4 persen menjadi 236,3 miliar yen (1 yen = Rp113) atau sekitar 1,5 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.913).
Gulung tikar perusahaan dipicu oleh krisis tenaga kerja menyentuh rekor tertinggi sebanyak 63 kasus, termasuk 36 yang disebabkan oleh lonjakan biaya personel, dua kali lipat dibanding setahun sebelumnya.
Sementara itu, kasus yang berakar pada kenaikan harga mencapai 93 kasus, yang tertinggi sejak 2022, seiring pelemahan yen mendorong biaya material dan bahan baku, ungkap laporan tersebut.
Berdasarkan industri, sektor jasa mencatatkan angka kebangkrutan terbanyak dengan 342 kasus, sementara sektor informasi dan komunikasi mencatat lonjakan kebangkrutan sebesar 62,5 persen, dengan angka tersebut mencakup perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan perangkat lunak yang terdampak oleh meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Perusahaan-perusahaan skala kecil dengan liabilitas di bawah 100 juta yen menyumbang hampir 80 persen dari total angka kebangkrutan tersebut. (Foto: Dok salah satu ruas jalan di Jepang)




